Amperemeter: Pengertian, Jenis, Fungsi dan Cara Menggunakannya!

Tisucoding.com – Siapa pun yang dekat dengan dunia kelistrikan, pasti sudah tidak asing dengan yang namanya amperemeter. Amperemeter  adalah salah satu alat ukur listrik, yang digunakan oleh orang-orang untuk mengukur seberapa besar arus listrik.

Jelas, amperemeter memiliki manfaat yang sangat besar dan penting dalam dunia kelistrikan. Alat ini wajib dimiliki oleh teknisi listrik, atau siapa saja yang ingin tahu arus listrik dalam sebuah rangkaian. Melalui amperemeter, arus listrik bisa diketahui dengan cepat dan akurat.

Nah, buat yang tidak terlalu paham dengan amperemeter, bisa mempelajari ulasannya di bawah ini. Akan dijelaskan dengan lengkap apa itu amperemeter, fungsinya, manfaatnya, bagian-bagian di dalamnya serta bagaimana cara menggunakannya.

Pengertian Amperemeter

Pengertian Amperemeter

Pertama, kita akan membahas apa itu pengertian amperemeter. Instrumen kelistrikan ini mungkin sudah banyak diketahui orang-orang, khususnya mereka yang belajar atau memang berkecimpung di dunia kelistrikan.

Namun, ternyata masih banyak orang awam yang belum tahu tentang amperemeter. Mungkin mereka pernah mendengar amperemeter, namun belum paham tentang pengertiannya, fungsinya apalagi bagaimana cara menggunakannya.

Jadi, amperemeter adalah alat atau instrumen yang digunakan untuk mengukur besar kecilnya arus listrik dalam sebuah rangkaian listrik. Kenapa diberi nama dengan amperemeter? Jelasnya, karena sebutan untuk satuan arus adalah Ampere atau A. Amperemeter sendiri acap disingkat menjadi Ammeter.

Sejauh ini, amperemeter bisa digunakan untuk mengukur segala jenis arus, entah arus AC (Alternating Current) atau DC (Direct Current). Biasanya, saat digunakan, amperemeter akan dipasang seri pada rangkaian listrik yang akan diukur.

Tidak perlu khawatir, desain amperemeter menawarkan hambatan yang rendah, jadi proses pengukuran tidak akan mengubah rangkaian listrik yang diukur. Dengan adanya amperemeter ini, teknisi akan lebih mudah mengecek jaringan listrik, karena tahu besar kecilnya arus yang mengalir.

Umumnya, amperemeter terbuat dari resistensi shunt dan mikroamperemeter yang disusun seri. Penggunaan dua alat ini berfungsi untuk mendeteksi besar kecilnya tegangan arus listrik yang terdapat di sebuah rangkaian listrik.

Fungsi Amperemeter

Fungsi Amperemeter

Dari pengertian amperemeter di atas, tentunya Anda sudah paham tentang fungsi dari alat ini. Sebenarnya, amperemeter memiliki dua fungsi, fungsi utama dan fungsi tambahan. Dua fungsi amperemeter tersebut akan dijelaskan di bawah ini.

1. Amperemeter untuk Mengukur Arus Listrik

Jelas, fungsi utama dari instrumen ini adalah untuk mengukur besar kecilnya arus listrik yang terdapat dalam sebuah rangkaian listrik. Dengan menggunakan alat ini, Anda bisa tahu dengan cepat dan akurat arus listrik yang terdapat di rangkaian yang diukur.

Amperemeter sendiri bisa digunakan untuk mengukur dua jenis arus listrik, yaitu AC atau arus listrik bolak-balik dan DC atau arus listrik langsung. Biasanya, arus listrik DC digunakan di rangkaian elektronik dengan daya yang cenderung kecil.

Untuk mengukur arus listrik DC, amperemeter harus disusun secara seri untuk tahu besar kecilnya arus listrik di dalamnya. Bagaimana dengan arus listrik AC? Untuk mengukur arus listrik AC, biasanya teknisi menggunakan alat yang bernama Clamp Meter.

BACA JUGA  Op-Amp: Pengertian, Sejarah, Fungsi, Hingga Karakteristik

Untuk mengukur arus listrik AC, teknisi hanya butuh melilitkan kabel ke alat ukur, yaitu Clamp Meter. Banyak yang menganggap bahwa cara ini sangat efektif, karena tidak harus mengupas kabel  terlebih dahulu untuk mengukur arus listrik.

2. Mengecek Kerusakan Pada Arus Listrik

Selain untuk mengukur arus listrik, fungsi lain dari amperemeter adalah untuk mengecek apakah ada kerusakan pada rangkaian listrik. Hal ini tentu tidak lepas dari fungsi utamanya, yaitu untuk mengukur dan tahu apakah ada arus listrik pada rangkaian apa tidak.

Jika saat pengukuran tidak ditemukan arus, maka pasti ada kerusakan pada rangkaian elektronika tersebut. Memang, ketika ada komponen yang rusak, maka besar kemungkinan arus listrik tidak bisa mengalir ke komponen tersebut.

Jadi, ketika memang ada  komponen yang rusak atau terputus, segera bisa ditindaklanjuti atau diperbaiki. Dengan begini, komponen elektronik tersebut bisa berfungsi seperti biasanya, karena sudah bisa dialiri arus listrik.

Mengenal Bagian-bagian Amperemeter

Mengenal Bagian-bagian Amperemeter

Tidak hanya sekedar mengerti amperemeter, Anda pun harus tahu bagian-bagian dari instrumen kelistrikan ini. Hal ini membuat Anda lebih paham dengan amperemeter, begitu pun dengan cara menggunakannya.

Berikut ini adalah bagian-bagian atau komponen yang membentuk amperemeter :

  • Galvanometer
  • Batas ukur
  • Terminal positif dan terminal negatif.
  • Jarum petunjuk
  • Skala maksimum
  • Resistensi shunt

Masih-masih dari bagian-bagian amperemeter di atas akan dijelaskan di bawah ini :

1. Galvanometer

Komponen utama yang dimiliki oleh amperemeter adalah galvanometer. Galvanometer di amperemeter sendiri berfungsi untuk melakukan proses pengukuran dari tingkatan arus listrik. Hebatnya lagi, galvanometer terbukti bisa mengukur arus listrik di rangkaian dengan ketelitian yang tinggi.

Galvanometer terdiri dari dua komponen penyusun, yaitu inti besi dan kumparan. Inti besi tersebut diselimuti oleh kumparan, yang berasal dari bahan kawat yang sangat halus. Galvanometer disusun secara seri bersama dengan resistor dan hambatan, agar batas ukur yang dimiliknya besar.

Lalu, bagaimana cara kerja galvanometer? Komponen ini bekerja dengan menggunakan sistem hukum Lorentz. Bagaimana maksudnya? Jadi, ketika ada arus listrik yang mengalir di kumparan, maka inti besi berfungsi sebagai magnet dan melakukan penarikan.

Lalu, inti besi tersebut akan berputar dan selanjutnya membuat jarum petunjuk mulai bergerak otomatis. Nah, setelah proses pengukuran selesai, jarum tersebut akan berhenti di skala yang terdapat di layar display. Jadi, arus di dalam rangkaian tersebut telah diketahui dengan akurat.

2. Batas Ukur

Komponen berikutnya yang terdapat di amperemeter yaitu batas ukur. Batas ukur sendiri merupakan nilai maksimal yang dimiliki oleh setiap amperemeter. Nantinya, nilai maksimal tersebut akan menunjukkan nilai tertinggi yang dapat diukur dengan amperemeter.

Seperti rangkaian yang memiliki arus maksimal berbeda-beda, begitu pun dengan amperemeter, yang memiliki batas ukur atau arus maksimal yang bisa diukur. Jadi, pastikan Anda menggunakan amperemeter yang sesuai untuk mengukur arus di sebuah rangkaian elektronika.

3. Terminal Positif dan Negatif

Komponen yang dimiliki oleh amperemeter berikutnya adalah terminal positif dan negatif. Dua terminal ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, di mana terminal positif berfungsi untuk input positif, sedangkan terminal negatif berfungsi untuk output negatif.

4. Pointer atau Jam Penunjuk

Berikutnya ada pointer atau jam penunjuk, yang memang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu. Ya, pointer atau jam penunjuk di amperemeter berfungsi untuk menunjukkan hasil pengukuran yang telah dilakukan pada rangkaian elektronika.

Tentunya, komponen ini hanya dimiliki atau terdapat di amperemeter jenis analog. Jika Anda telah menggunakan amperemeter digital, maka tidak terdapat jarum penunjuk atau pointer di dalamnya. Biasanya, hasil akan muncul otomatis dan langsung dalam bentuk angka.

BACA JUGA  Pengertian, Fungsi, Bahan, Jenis, dan Ukuran Kabel Ties (Zip Ties)

5. Skala Maksimum

Komponen amperemeter yang harus Anda tahu berikutnya adalah skala maksimum. Sesuai dengan namanya, komponen ini memiliki  satu fungsi, yaitu untuk menampilkan batas nilai tertinggi. Ada beberapa metode yang digunakan untuk membaca amperemeter di skala maksimum.

Misal, jika Anda sedang mengukur kuat arus, metode pembacaan amperemeter yang digunakan adalah skala dilihat dari kiri ke kana. Berbeda jika Anda sedang mengukur nilai resistensi atau hambatan, maka berlaku sebaliknya, yaitu skala dibaca dari kanan ke kiri.

6. Resistensi Shunt

Komponen amperemeter yang terakhir adalah resistensi shunt, bagian dari amperemeter yang berfungsi untuk menciptakan jalur hambatan. Apa gunanya? Jelas, tujuannya  adalah agar arus listrik yang berada di rangkaian tetap bisa mengalir ke titik lain.

Selain itu, tujuan dari pemasangan resistensi shunt di amperemeter adalah untuk memperbesar batas ukur, dan memperluas penyimpangan. Lalu, berapa nilai resistensi yang dihasilkannya? Nilai resistensi yang dihasilkannya adalah sama atau kuran dari 1 Ohm.

Jenis-jenis Ampermeter

Jenis-jenis Ampermeter

Ada banyak jenis amperemeter yang selama ini digunakan. Setiap amperemeter memiliki kegunaan dan spesifikasi yang berbeda-beda. Klasifikasi amperemeter pun berdasarkan beberapa hal, mulai dari metode  pembacaan, sistem kerja dan lain sebagainya.

Nah, berikut ini adalah macam-macam amperemeter yang harus  Anda tahu :

1. Jenis Amperemeter Berdasarkan Metode Pembacaan

Pertama ada jenis amperemeter berdasarkan cara pembacaan hasil pengukuran, di mana ada dua, yaitu :

1.1. Amperemeter Analog

Anda tentu sudah paham dengan perbedaan analog dan digital. Jadi, amperemeter analog sendiri adalah alat ukur arus listrik yang menggunakan pointer atau jarum penunjuk untuk menunjukkan hasil pengukuran. Nantinya, jarum penunjuk tersebut akan menunjuk di skala sesuai dengan besarnya arus listrik.

Ada dua jenis amperemeter analog, yaitu :

  • Amperemeter DC
  • Amperemeter AC

Amperemeter analog DC adalah amperemeter yang digunakan untuk mengukur arus listrik pada rangkaian listrik DC. Alat ini dipasang secara seri saat digunakan untuk melakukan pengukuran di rangkaian elektronika.

Sedangkan amperemeter analog AC adalah alat ukur arus listrik AC yang juga dipasang dalam susunan seri. Saat ingin menggunakan amperemeter analog, jangan sampai salah memilih amperemeter, harus sesuai dengan jenis arus yang ingin Anda ukur.

1.2. Amperemeter Digital

Jenis amperemeter berdasarkan metode pembacaan yang kedua adalah amperemeter digital. Berbeda dengan amperemeter analog yang menggunakan pointer atau jarum penunjuk, amperemeter digital akan langsung memunculkan hasil pengukuran dalam bentuk angka.

Jadi, ketika Anda telah selesai melakukan pengukuran, maka nilanya akan langsung muncul dengan cepat dan akurat. Dibandingkan dengan amperemeter analog, cara membaca hasil pengukuran arus listrik di amperemeter digital lebih mudah, hanya perlu melihat angkanya di display.

2. Jenis Amperemeter Berdasarkan Sistem Kerja

Tidak hanya diklasifikasikan berdasarkan metode pembacaan, amperemeter pun diklasifikasikan berdasarkan sistem kerja. Nah, di bawah ini akan dijelaskan dengan gamblang jenis-jenis amperemeter berdasarkan sistem kerjanya.

2.1. Hook

Pertama ada Hook, yang memiliki berbagai keunggulan, seperti sistem kerjanya yang mudah digunakan. Amperemeter ini bisa Anda gunakan untuk mengukur jenis arus bolak-balik atau AC. Selain itu, Hook juga lebih praktis, karena dapat mengukur arus dengan hasil yang instan.

Ketika Anda menggunakan amperemeter ini, maka tidak perlu sampai membuka rangkaian terlebih dahulu. Jadi akan lebih mudah, karena tidak akan mengganggu rangkaian, yang biasanya butuh waktu lebih lama. Lalu, bagaimana cara menggunakan amperemeter ini?

BACA JUGA  MCCB: Pengertian, Komponen, Cara Kerja, dan Bedanya dengan MCB

Jadi, ketika kamu menggunakan amperemeter hook ini, bisa langsung menempelkannya ke objek yang ingin diukur. Cukup tempelkan amperemeter hook di rangkaian elektronika yang ingin kamu ketahui arusnya, dan hasilnya akan langsung muncul.

2.2. Elektromekanis

Berikutnya ada amperemeter elektromekanis, sebuah amperemeter yang bekerja secara elektromekanis. Jadi, pengguna amperemeter ini akan mengukur arus dalam sebuah rangkaian dengan melihat interaksi mekanis yang terjadi antara arus dan medan magnet.

2.3 Termal

Thermal amperemeter merupakan amperemeter yang bekerja dengan sistem ekspansi, yaitu dengan melihat ekspansi yang terjadi di konduktornya. Nantinya, derajat panas yang dihasilkan pada termal akan sama dengan kuadrat arus yang terdapat di rangkaian elektronik tersebut.

Rumus Amperemeter

Adapun rumus amperemeter adalah sebagai berikut :

I=V/R

Catatan :

I = Ampere atau Arus

V = Volt atau Tegangan

R = Ohm atau Hambatan

Dalam ilmu fisika, A merupakan lambang dari Ampere, yaitu merupakan satuan SI untuk menunjukkan kuat arus listrik.

Namun begitu, ada pula yang menyebutnya sebagai Amp saja, jadi bisa 1 Ampere atau Amp. Artinya adalah sebuah arus listrik yang mengalir dari kutub positif ke negatif.

Cara Menggunakan Amperemeter yang Benar

Cara Menggunakan Amperemeter

Bagi orang awam, menggunakan amperemeter sepertinya sangat sulit. Memang tidak bisa disalahkan, karena yang selama ini terjadi, mereka yang berkecimpung di dunia kelistrikan saja yang bisa menggunakan amperemeter.

Bahkan, sepertinya mayoritas orang awam jarang yang memiliki amperemeter sendiri di rumah. Mereka memang akan jarang membutuhkan instrumen ini. Jika memang membutuhkannya, biasanya hanya menyuruh ahlinya sekalian, dalam hal ini adalah teknisi listrik.

Padahal, kalau mau belajar sebentar saja, cara menggunakan amperemeter sebenarnya sangat mudah. Nah, di bawah ini akan dijelaskan bagaimana cara menggunakan amperemeter untuk mengukur besar kecilnya arus listrik dalam sebuah rangkaian.

1. Menggunakan Amperemeter dengan Clamp Meter

Mengukur arus listrik juga bisa menggunakan alat yang bernama clamp meter. Clamp meter sendiri biasa disebut dengan tang ampere, yaitu alat untuk mengukur arus listrik yang memiliki dua rahang penjepit. Dengan alat ini, mengukur arus listrik tidak perlu kontak langsung dengan terminal listrik.

Lalu, bagaimana caranya? Cara menggunakan clamp meter ini sangat mudah, hanya perlu menempatkannya di sekeliling kabel listrik yang akan diukur. Menariknya, selain untuk mengukur arus listrik, alat ini pun bisa dimanfaatkan sebagai multimeter, untuk mengukur resistensi dan hambatan.

Berikut cara menggunakannya :

  • Putar saklar clamp meter ke arah A.
  • Tekan trigger untuk membuka rahang penjepit clamp meter lalu lepaskan.
  • Hidupkan perangkat yang ingin diukur arus listriknya.
  • Baca nilai arus yang muncul di display clamp meter.

2. Menggunakan Amperemeter Tanpa Clamp Meter

Jika Anda tidak memiliki clamp meter, maka cara menggunakan amperemeter akan berbeda. Biasanya, amperemeter jenis analog yang masih belum memiliki clamp meter di dalamnya. Namun jangan khawatir, meski lebih kompleks, namun tetap bisa dilakukan.

Berikut pelajari langkah-langkahnya :

  • Pertama, pasang amperemeter dengan susunan seri di beban.
  • Setelahnya putar knob sesuai dengan perkiraan batas ukur yang paling dekat.
  • Sesuaikan jenis benda yang nantinya akan diukur.
  • Lalu tentukan range batas ukur, putar knob yang terdapat pada alat tersebut.
  • Berikutnya hidupkan sumber tegangan, lalu perhatikan pergerakan jarum penunjuk di display.
  • Selesai, Anda akan bisa menyimpulkan besar kecilnya arus listrik dengan membaca pointer di skala.

Amperemeter adalah salah satu alat ukur kelistrikan yang penting, bisa untuk mengukur arus pada rangkaian elektronik dengan hasil yang akurat. Sekarang sudah banyak dijual amperemeter digital, memudahkan pengguna untuk mengukur arus listrik.